X

5 Contoh Puisi Sektet dalam Bahasa Indonesia

Puisi merupakan suatu karya sastra yang mengandung pikiran dan perasaan yang disampaikan dengan penulisan dan iraa tertentu. Puisi mempunyai sejumlah jenis, di mana salah satunya adalah sektet. Sektet merupakan salah satu diantara macam-macam puisi baru berdasarkan bentuknya, selain contoh puisi distikon dan contoh puisi terzina. Sektet sendiri merupakan puisi baru yang tiap baitnya terdiri atas 6 baris. Supaya pembaca lebih paham jenis puisi ini, berikut ditampilkan beberapa contoh puisi sektet dalam bahasa Indonesia yang bisa dilihat di bawah ini.

Contoh 1:

Kanjeng Nabi*
Karya: Candra Malik

Duh, kanjeng Muhammad.

Pagi ini aku sedih sekali.
Muhammad yang kucintai
sedemikian dibenci
sampai ditelanjangi
dengan gambar hewani
dan disumpahserapahi.

Pagi ini aku sedih luar biasa.
Muhammad yang kucinta
dibela membabi buta
sampai membunuhi manusia
dengan angkara murka
menyebut nama Tuhannya.

Entah hati, akal, atau apa.
Manusia tapi tidak manusiawi.
Entah Benci entah cinta.
Najis bercampur dengan suci.
Benar dan salah kini serupa.
Akal jadi brutal, hati jadi nyali.

Muhammad tak seperti itu.
Tidak gambarmu, tidak gambarku.
Dia hidup damai dalam kalbu
meski dihina dari segala penjuru.
Dialah Muhammad yang kurindu
dan kubela tanpa membencimu.

8 Januari 2015

*Sumber: Candra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 63-64.

Contoh 2:

Pendaratan Malam*
Karya: Sitor Situmorang

Tentara tak berbekal mendarat
Di malam disuburkan lapar
(Bila fajar bawa berita
Kayu apung istirahat mereka)
Tentara tak berbekal mendarat
Di malam disuburkan lapar

*Sumber: Sitor Situmorang, Dalam Sajak, hlm 42.

Contoh 3:

Ranjang Ibu*
Karya: Joko Pinurbo

Ia gemetar naik ke ranjang
sebab menginjak ranjang serasa menginjak
rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang.
Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit,
serasa terdengar gemeretak tulang
ibunya yang sedang terbaring sakit.

(2004)

*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 124.

Contoh 4:

Puasa*
Karya: Joko Pinurbo

– untuk Hasan Aspahani

Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakain untuk mencekik leher saya sendiri.
Saa sedang mencuci kata-kata
dengan keringat yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan selamat menunaikan Ibadah Puisi.

(2007)

*Sumber: ibid, hlm 152.

Contoh 5:

Bunda dan Anak*
Karya: Rustam Effendi

Masak Jambak,
buah sebuah
diperam alam di ujung dahan.
Merah darah
beruris-uris
bendera masak bagi selera.

Lembut umbut,
disantap sayap.
Keroak pipi pengobat haus.
Harum baun
sumarak jambak.
Di bawah pohon terjatuh raum

Lalu ibu
di pokok pohon.
Tersarung hidung, terjatuh mata
pada pala,
tinggal sepenggal.
Terpecik liur di bawah lidah.

Belum jambu
masuk direguk,
terkenang anak, terkalang dirangkung.
Dalam talam,
bunda bersimpan
menanti putra si bungsu sulung.

Anak lasak
tersera-sera.
Budan berlari mengambil jambu.
Ibu sungguh
buah sebuah,
sedapnya sama dirasa ibu.

Renguk sunut,
merajut… rajuk.
Bakhil disangka cintanya bunda.
Keluar pagar
jambu dilempar.
Ibu berdiam, mengurut dada.

*Sumber: Kepada Puisi, http://kepadapuisi.blogspot.co.id/2017/01/roestam-effendi-percikan-permenungan.html. (diakses pada 8 Februari 2018, pukul 15.18)

Demikianlah beberapa contoh puisi sektet dalam bahasa Indonesia. Jika pembaca ingin mengetahui beberapa contoh dari jenis-jenis puisi baru lainnya, maka pembaca bisa membuka artikel contoh puisi balada, contoh puisi himne, contoh puisi romance, contoh puisi epik, contoh puisi dramatik, serta contoh puisi subjektif dan objektif. Semoga bermanfaat dan mampu menambah wawasan bagi para pembaca sekalian, baik itu mengenai puisi khususnya, maupun bahasa Indonesia pada umumnya. Sekian dan terima kasih.

Categories: Puisi
Ratna Sumarni S.Pd: