X

Cerita Fantasi dalam Bahasa Indonesia – Jenis, Struktur, dan Contohnya

Cerita fantasi atau teks narasi adalah adalah jenis teks yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis berdasarkan pengalaman, pandangan, tafsiran, kecendikiaan, wawasan, dan penilaiannya terhadap berbagai peristiwa. Peristiwa itu bisa saja pernah terjadi secara nyata ataupun hanya dalam khayalan penulis saja. Kemudian, penulis mengungkapkannya kembali dengan menggunakan bahasa sebagai latnya berdasarkan kemampuan imajinasi dan keluasan wawasan pengetahuannya.

Sebagai salah satu jenis teks narasi, cerita fantasi memiliki beberapa ciri umum antara lain sebagai berikut.

1. Bersifat fiksi

Cerita fantasi bersifat fiktif atau bukan merupakan kejadian nyata. Meskipun begitu, cerita fantasi juga bisa diilhami dari kejadian yang sebenarnya atau kisah nyata hanya diberi bumbu fantasi.

2. Tema cerita

Cerita fantasi umumnya bertemakan magis, supernatural atau futuristik. Dalam arti, cerita fantasi umumnya mengungkapkan hal-hal yang sifatnya magis, supernatural atau futuristik yang tidak ditemui di dunia nyata.

3. Ide cerita

Ide cerita fantasi tidak dibatasi oleh realitas atau kehidupan nyata. Dalam arti, ide cerita yang diungkapkan penulis memiliki imajinasi tanpa batas. Ide juga dapat berupa irisan dunia nyata dan dunia hayal yang diciptakan oleh penulis. Adapun ide cerita bersifat sederhana tetapi mampu untuk menitipkan pesan yang menarik.  

4. Latar cerita

Umumnya cerita fantasi menggunakan berbagai latar. Dalam arti, peristiwa yang dialami tokoh terjadi pada dua latar yaitu latar yang masih ada dalam kehidupan sehari-hari dan latar yang tidak ada pada kehidupan sehari-hari. Rangkaian peritiwa cerita fantasi menggunakan berbagai latar yang menerobos dimensi ruang dan waktu. Jalinan peristiwa pada cerita fantasi berpindah-pindah dari berbagai latar yang melintasi ruang dan waktu.

5. Tokoh cerita

Tokoh dalam cerita fantasi bersifat fiktif dan memiliki watak serta karakteristik yang unik dan tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Kerapkali, tokoh dalam cerita fantasi digambarkan memiliki kesaktian tertentu dan mengalami peritiwa yang misterius yang tidak terjadi di dunia nyata.  Di samping itu, tokoh dalam cerita fantasi mengalami kejadian dalam berbagai latar waktu dan latar tempat.   

6. Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam cerita fantasi biasanya memiliki ciri kebahasaan sendiri sebagaimana halnya teks ulasan, teks eksempulum, dan teks prosedur dalam bahasa Indonesia. Adapun ciri kebahasaan cerita fantasi adalah sebagai berikut.

  • Menggunakan kata ganti dan nama orang sebagai sudut pandang penceritaan seperti aku, dia, mereka, Ari, Yanti, dan lain-lain.   
  • Menggunakan kata yang mencerap pencaindera untuk mendeskripsikan latar yakni latar waktu, latar tempat, dan suasana. Misalnya : Tengah malam suara mengerikan itu kembali terdengar.
  • Menggunakan kata-kata yang bermakna kias dan makna khusus. Misalnya : Seketika matanya memerah seperti terbakar api setelah meminum ramuan itu.   
  • Menggunakan konjungsi atau kata sambung penanda urutan waktu seperti setelah itu, kemudian, sementara itu, bersamaan dengan itu, tiba-tiba, ketika, sebelum, dan sebagainya. Tujuan digunakannya konjungsi atau kata sambung penanda urutan waktu adalah untuk menandakan datangnya tokoh lain atau perubahan latar baik latar suasana, waktu, dan tempat. Misalnya : Akhirnya Moni Sang Puteri berhasil bertemu dengan Pangeran Rubi pujaannya dan menikah.
  • Menggunakan kata atau ungkapan keterkejutan yang berfungsi untuk menggerakkan cerita atau memulai masalah. Misalnya : Tiba-tiba tikus besar itu datang.
  • Menggunakan dialog atau kalimat langsung dalam cerita. Misalnya : “Larilah ke hutan! Naga itu mulai memporak porandakkan desa kita!”  

Jenis

Terdapat beberapa jenis cerita fantasi yang dibedakan berdasarkan latar cerita dan kesesuaiannya dalam kehidupan nyata.

1. Latar cerita

Berdasarkan latar cerita, cerita fantasi dibedakan menjadi dua kategori yaitu latar lintas waktu masa lampau dan latar waktu sezaman.

  • Cerita fantasi latar lintas waktu adalah cerita fantasi dengan menggunakan dua latar waktu yang berbeda. Misalnya, masa kini dengan masa depan atau masa kini dengan masa lalu.
  • Cerita fantasi latar waktu sezaman adalah cerita fantasi dengan menggunakan satu latar waktu saja, misalnya masa lalu, masa kini, atau masa depan.

2. Kesesuaian dalam kehidupan nyata

Berdasarkan kesesuaian dalam kehidupan nyata, cerita fantasi dibedakan menjadi dua kategori yaitu cerita fantasi total dan cerita fantasi sebagian (irisan).

  • Cerita fantasi total adalah cerita fantasi yang berisi fantasi pengarang terhadap objek tertentu. Pada cerita fantasi total, semua yang terdapat di dalamnya tidak terjadi dalam kehidupan nyata.   
  • Cerita fantasi irisan adalah cerita fantasi yang mengungkapkan fantasi tetapi masih menggunakan nama-nama, tempat atau peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan nyata.

Struktur

Sebagai salah satu jenis teks narasi, cerita fantasi pun memiliki struktur tersendiri yang meliputi orientasi, komplikasi, dan resolusi.

  • Orientasi berisi pengenalan tokoh, latar, watak tokoh, dan konflik.
  • Komplikasi berii hubungan sebab akibat sehingga muncul masalah hingga masalah itu memuncak.
  • Resolusi berisi penyelesaian maalah dari konflik yang terjadi.

Contoh

Berikut adalah contoh cerita fantasi singkat dalam bahasa Indonesia yang dikutip dari Wuflite Edisi 4 Tahun 2009.

Pembias Indah karya Ariez Sunjaya

Saat tak terdengar lagi, aku berani melihat. Tatkala masih terdengar, aku tak berani membalas pandangan itu. Bagiku sahabat adalah harapan, seperti bumi mengharap hujan. Kuhindari tatapannya hanya untuk dia, sahabatku. Entah mungkin ilusi benakku atau memang ada, cinta itu seperti terbias dari kelopaknya. Sungguh gusar perasaanku melihat tatapan kekasih sahabatku menuju padaku.

Awalnya memang buruk, tak sehari pun kulewatkan dengannya tanpa berselisih paham. Dia pilih selatan aku pilih utara. Tak sedetik aku berharap dia bertukar dengan orang lain, tak sealur aku mencoba menangkap pujian kosongnya. Sebagian dari itu mungkin aku memang tak suka padanya.

Namun tak terelakkan lagi, saat ini aku terbalik menghadap bumi. Mungkin perasaanku tertinggal di permukaannya. Berjuta usaha kulakukan untuk menghindari itu. Sungguh, benakku ta cukup kuat untuk itu.

Saat ini sudah lebih dari sebulan aku tak bertemu sapanya, bertemu perkataannya yang senonoh. Tak dapat kusangkal, aku merindukannya. Tapi rindu itu kucegah. Batin yang memberontak kutahan. Sebenarnya apa yang jiwaku inginkan?

Jawaban itu kutemukan di sebelah sahabatku. Sang sahabat duduk dan menatapku getir.

Oh, aku benar-benar sadar, siapa yang kucoba lindungi dari perasaan serba salah ini. Aku memang tak kuat, tapi perasaan iri itu sirna begitu saja. Tak setitik pun ingin mengganggu mereka.

Repihan hati ini kubawa dengan sebersit peluh kepada pecahan jiwaku yang lain. Dia hanya memaksa aku untuk mengakui rasa. Tapi tetap kukatakan tidak. Meski ternyata jawabannya bukan itu, masih puluhan lembah nan jauh harus kutempuh untuk menemukannya.

Kalau memang sang mentari mampu, aku akan mencoba bertamu. Jika saja bulan tertarik, aku akan ceritakan padanya. Namun gelombang besar dalam jiwa mengamuk, menghantam setiap celah perasaan untuk membukanya. Perang ini takkan sebentar usai. Justru menurutku baru saja dimulai.

Jikalau memang terserat, suratan takdir akan kubaca. Namun jika mungkin mampu kuubah, kuharap yang terbaik. Ini ujian ketabahan. Berarti kesabaran akan berbuah kebaikan.

Jauh dari itu semua, andaikan sanggup kutanyakan pada sang pembias cinta itu, akan aku tanyakan. Tapi sisi lain diriku berkata sebaliknya. “Dia tidak membiaskan apa-apa, hanya secercah sengit bagimu.”

Inilah perang. Aku pun gusar dengan perkataan itu. Coba kusangkal tapi memang benar. Batinku yang satu berkata lagi, “benar, perasaannya sama denganmu.”

Bingung tak terelakkan. Aku belum melewati satu lembah pun. Bahkan mungkin aku tersesat dalam rimba perasaanku sendiri. Rimba itu berliku-liku, namun tetap menuju satu arah, yaitu, “tidak.”

Lalu seketika batinku berbisik, “Bukan itu, tapi lembah pikiran, mungkin di situ kamu akan menemukannya.” Baralihlah aku mencari.

Ternyata ini bukanlah soal perasaan, bukanlah soal cinta, tak benar soal romansa. Ini hanya tipu muslihat sang pikiran, ia memang pintar menyembunyinkan dirinya, meski toh aku menemukannya. Rakit bernama batinlah yang mengantarku, dan akhirnya lembah nan jauh itu kutemukan ujungnya. Di sana tertulis :

“Benak berada di bawah batin, sesuatu yang terpikirkan harus tersaring kepadanya, dank au harus mengetahui satu hal yang teramat jelas yang memang kau sudah mengetahuinya sedari dulu. Aku hanya membenarkan karena itu memang benar. Dan aku akan menyelahkan jika itu memang tidak baik bagi bumi dalam dirimu … “

Tulisan itu terpotong seakan batinku yang lain menyembunyikannya, sebab ia memang membenci sang pikiran. Lalu kutemukan di bawah genggaman si batin itu. Kubuka perlahan. Dan seratan itu persis seperti yang kuharapkan.

“Waktu akan membuktikan. Jikalau bumi ini berguncang, salah satu yang menyelamatkanmu adalah sahabat. Dan tak sedikit sahabatmu yang mengajarimu berenang saat pikiran terbanjiri masalah. Jadi, relakan dia untuk sahabatmu.”

Seratan butut itu terlalu dalam merosok ke perasaanku, dan menyalakan kembali senyum wajahku. Aku siap menyambut kembali batinkeburukanku yang sedang termenung. Yah, waktu akan membuktikan betapa ia memang benar.

“Aku sudah memilih,” ucapku pada sang pikrian.

Demikianlah ulasan singkat tentang cerita fantasi dalam bahasa Indonesia terkait dengan jenis, struktur, dan contohnya. Artikel lain yang dapat dibaca di antaranya adalah contoh cerita singkatcontoh novel fiksicontoh prosa baru novelcontoh cerita novelcontoh novel singkat, jenis-jenis novelperbedaan cerpen dan novel, contoh roman singkat,  contoh cerpen alur mundurcontoh cerpen alur campurancontoh cerpen singkat tentang lingkungan alamcontoh cerpen pendekcontoh alur cerita dalam cerpen, serta contoh cerpen singkat beserta strukturnya. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Categories: Cerita
Ambar: