X

Ciri-Ciri Fabel dan Legenda dalam Bahasa Indonesia

Pada kesempatan yang lalu, kita telah mengulas tentang beberapa karya sastra Indonesia lama seperti jenis-jenis puisi lama dan jenis-jenis prosa lama. Pada kesempatan kali ini, kita akan mengulas tentang karya sastra Indonesia lama yang termasuk prosa lama yaitu fabel dan legenda terkait dengan ciri-ciri yang dimiliki. Namun sebelumnya, kita pahami terlebih dahulu pengertian fabel dan legenda.

Pengertian

Fabel merupakan salah satu jenis teks narasi yang bercerita tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia. Fabel termasuk cerita fiksi, bukan kisah tentang kehidupan nyata. Fabel juga sering disebut cerita moral karena pesan yang ada di dalam cerita fabel berkaitan erat dengan moral. Teks cerita fabel tidak hanya mengisahkan kehidupan binatang, tetapi juga mengisahkan kehidupan manusia dengan segala karakternya.

Binatang-binatang yang ada pada cerita fabel memiliki karakter seperti manusia. Karakter mereka ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Mereka mempunyai sifat jujur, sopan, dan senang bersahabat, serta melakukan perbuatan terpuji. Mereka ada yang berkarakter licik, culas, sombong, suka menipu, dan ingin menang sendiri. Cerita fabel tidak hanya ditujukan kepada anak-anak tetapi juga kepada orang dewasa.  

Sebagai teks cerita naratif, teks cerita fabel memiliki struktur orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda.

  • Orientasi berisi pengenalan tokoh, latar, watak tokoh, dan konflik.
  • Komplikasi berisi hubungan sebab akibat sehingga muncul masalah hingga masalah itu memuncak.
  • Resolusi berisi penyelesaian masalah dari konflik yang terjadi.
  • Koda merupakan bagian terakhir dari struktur teks cerita favel. Koda berisi perubahan yang terjadi pada tokoh dan pelajaran yang dipetik dari cerita tersebut.

Seperti halnya fabel, legenda juga termasuk dalam sastra lama. Legenda adalah ceriita rakyat dimana si empunya cerita menganggap bahwa kejadian atau peristiwa dalam cerita itu benar-benar terjadi. Biasanya, legenda mengisahkan asal-asul tempat, tumbuh-tumbuhan, dan dunia binatang.

Fabel dan legenda termasuk karya sastra lama yang memiliki ciri-ciri anonim, pralogis, kata-kata baku, istana sentris, dan berkembang secara lisan.

  • Anonim dalam artian nama penciptanya tidak diketahui.
  • Pralogis dalam artian cerita-ceritanya banyak diwarnai oleh hal-hal gaib.
  • Kata-kata baku dalam artian banyak menggunakan kata-kata baku, seperti alkisah, sahibul hikayat, menurut empunya cerita, konon, dan sejenisnya.
  • Istana sentris dalam artian peristiwa yang dikisahkan berupa kehidupan istana, raja-raja, dewa-dewa, para pahlawan, atau tokoh-tokoh mulia lainnya.
  • Berkembang secara lisan dalam artian karena belum ada media cetak dan elektronik, sastra klasik seperti fabel dan legenda disebarluaskan secara lisan.

Meskipun keduanya termasuk karya sastra lama, baik fabel maupun legenda memiliki karakteristiknya masing-masing. Berikut adalah ulasan singkatnya.

1. Ciri-ciri Fabel

Adapun ciri-ciri fabel adalah sebagai berikut. Fabel mengambil tokoh para binatang.

  • Tokoh-tokoh dalam fabel adalah para binatang seperti semut, beruang, kancil, kera, dan lain sebagainya.
  • Tokoh-tokoh dalam fabel digambarkan memiliki watak yang mirip dengan watak manusia yaitu tokoh yang baik dan tokoh yang buruk.
  • Tokoh-tokoh binatang dalam fabel dapat berbicara seperti manusia.
  • Alur cerita fabel memiliki rangkaian peristiwa yang menunjukkan kejadian sebab akibat. Rangkaian peristiwa ini diurutkan dari awal sampai akhir.
  • Latar yang digunakan dalam fabel adalah latar alam seperti hutan, sungai, kolam, dan lain-lain.
  • Karakteristik kebahasaaan dalam fabel diantaranya adalah banyak menggunakan kalimat naratif, kalimat langsung atau dialog yang terjadi antara para tokoh, dan menggunakan bahasa percakapan.   

2. Ciri-ciri Legenda

Legenda kerap disamakan dengan dongeng, namun sejatinya legenda memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan karya sastra lainnya. Menurut Yus Rusyana (2000) dalam Sinaga (2016), legenda memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Legenda merupakan cerita rakyat atau cerita tradisional yang dimiliki oleh masyarakat sejak dahulu.
  • Ceritanya biasa dihubungkan dengan peristiwa dan benda yang berasal dari masa lalu, seperti peristiwa penyebaran agama dan benda-benda peninggalan seperti masjid, kuburan, patung, dan lain-lain.
  • Para pelaku dalam legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betul-betul pernah hidup pada masyarakat lalu.
  • Hubungan tiap peristiwa dalam legenda menunjukkan hubungan yang logis.
  • Pelaku dan perbuatan yang dibayangkan benar-benar terjadi menjadikan legenda seolah-olah terjadi dalam ruang waktu yang sesungguhnya. Sejalan dengan hal itu anggapan masyrakat pun menjadi seperti itu dan melahirkan perilaku dan perbuatan yang benar-benar menghormati keberadaan pelaku dan perbuatan dalam legenda.

Contoh Fabel dan Legenda

a. Berikut disajikan contoh dongeng fabel singkat berjudul Semut dan Kepompong yang dikutip dari Kumpulan Cerita Fabel (tanpa nama dan tanpa tahun)

Semut dan Kepompong

Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu, dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. “Kraakk!” terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya.

Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si semut bergumam, “Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana”. “Menjadi kepompong memang memalukan!”. “Coba lihat aku, bisa pergi ke mana saja ku mau”, ejek semut pada kepompong. Semut terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang berhasil ditemuinya.

Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya semakin dalam. “Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti ini,” keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam lumpur. “Tolong! Tolong!” teriak semut.

“Wah sepertinya kamu sedang kesulitan ya?” Si semut terheran mendengar suara itu. Ia memandang ke sekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah terbang mendekatinya. “Hai semut, aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku. Lihat! Sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan?” “Yah, aku sadar. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang?” kata si semut pada kupu-kupu.

Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. “Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita untuk menolong yang sedang kesusahan bukan? Karena itu, kamu jangan mengejek hewan lain lagi ya?” Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib.

Hikmah yang bisa diambil dari cerita di atas adalah bahwa sesame makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina, karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina.

b. Berikut adalah contoh legenda singkat berjudul Si Pitung yang sekaligus merupakan contoh cerita rakyat dari Betawi yang dikutip dari buku Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VII, Kemendiknas 2011

Si Pitung

Si Pitung adalah seorang pemuda yang saleh dari Rawa Belong. Ia rajin belajar mengaji pada Haji Naipin. Selesai belajar mengaji, Si Pitung berlatih silat. Setelah bertahun-tahun, kemampuannya menguasai ilmu agama dan bela diri makin meningkat.

Pada waktu itu, Belanda sedang menjajah Indonesia. Si Pitung merasa iba menyaksikan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Sementara itu, Kumpeni (sebutan untuk Belanda), sekelompok Tauke, dan para tuan tanah hidup bergelimang kemewahan. Rumah dan lading mereka dijaga oleh para centeng yang galak.

Dengan dibantu oleh teman-temananya, Si Rais dan Jii, Si pitung mulai merencanakan perampokan terhadap rumah para Tauke dan tuan tanah kaya. Hasil rampokannya dibagi-bagikan pada rakyat miskin. Di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakannya sepikul beras. Keluarga yang dibelit hutang rentenir diberinya santunan. Dan anak yatim piatu dikiriminya bingkisan baju dan hadiah lainnya.

Kesuksesan Si pitung dan kawan-kawannya diakrenakan dua hal. Pertama, ia memiliki ilmu silat yang tinggi serta dikabarkan tubuhnya kebal akan peluru. Kedua, orang-orang tidak mau menceritakan di mana Si Pitung berada. Namun demikian, orang kaya korban perampokan Si Pitung bersama Kumpeni selalu berusaha membujuk orang-orang untuk membuka mulut.

Kumpeni juga menggunakan kekerasan untuk memaksa penduduk memberi keterangan. Pada suatu hari, kumpeni dan tuan-tuan tanah kaya berhasil mendapat informasi tentang keluarga Si Pitung. Maka, mereka pun menyandera kedua orang tuanya dan Haji Naipin. Dengan siksaan yang berat, akhirnya mereka mendapatkan informasi tentang di mana Si Pitung berada dan rahasia kekebalan tubuhnya.

Berbekal semua informasi itu, polisi Kumpeni pun menyergap Si Pitung. Tentu saja Si Pitung dan kawan-kawannya melawan. Namun, malangnya, informasi tentang rahasia kekebalan tubuh Si Pitung sudah terbuka. Ia dilempari telur-telur busuk dan ditembak. Ia pun tewas seketika. Meskipun demikian, untuk Jakarta, Si Pitung tetap dianggap sebagai pembela rakyat kecil.

Demikianlah ulasan singkat tentang ciri-ciri fabel dan legenda dalam bahasa Indonesia. Artikel lain yang dapat dibaca di antaranya adalah contoh cerita rakyat dari Jawa Tengah, contoh cerita rakyat Bali, contoh cerita rakyat Bengkulu, contoh cerita rakyat Indonesia, contoh cerita cerpen, contoh cerita novel, contoh cerita cerpen dan novel dalam bahasa Indonesia, contoh cerita alur maju, contoh cerita pengalaman pribadi, dan contoh  cerpen fabel. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Categories: prosa
Ambar: