39 Macam Macam Cerpen – Pengertian – Struktur dan Contohnya

Definisi Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita pendek atau biasa disingkat menjadi cerpen merupakan salah satu contoh teks narasi yang menceritakan ulang sebuah kejadian ataupun sebuah karangan fiktif yang biasanya berpusat pada satu tokoh yang jumlah kata di dalamnya tidak lebih dari 10.000 kata atau kurang dari sepuluh halaman.

Jusuf Sjarif Badudu atau lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu, seorang pakar Bahasa Indonesia, mendefinisikan cerpen sebagai suatu cerita yang hanya menjurus serta terfokus pada satu peristiwa saja. Selain itu, Jakobus Sumarjo atau Jakob Sumarjo, seorang budayawan dan pelopor kajian Filsafat Indonesia, mendefinisikan cerpen sebagai seni atau ketrampilan menyajikan cerita (skill to present story), yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, manunggal (memfokuskan pada satu bagian atau satu karakter saja), dan tidak ada bagian – bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak. Maksud bagian ‘terlalu banyak’ yang diutarakan oleh Jakob Sumarjo ini adalah bagian cerita dari sisi sang  tokoh  atau bagian ‘ke-aku-an’ yang memang menjadi pusat cerita untuk dieksplorasi.

Lain lagi pengertian cerpen menurut Edgar Allan Poe, seorang penulis; penyunting; sekaligus kritikus bahasa berkebangsaan Amerika, yang mendefinisikan cerpen sebagai sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira – kira 30 menit hingga dua jam, atau suatu hal yang sekiranya waktu membacanya tidak mungkin dilakukan untuk menyelesaikan sebuah novel. Sedangkan menurut Hans Bague Jassin atau H. B. Jassin, seorang penulis; penyunting; serta kritikus sastra Indonesia, mendefinisikan cerpen sebagai sebuah cerita singkat yang harus memiliki bagian terpenting yakni perkenalan, pertikaian, serta penyelesaian.

Ciri – Ciri Cerita Pendek (Cerpen)

Untuk membedakan cerpen dari bentuk karangan lain, berikut ini merupakan ciri-ciri cerita pendek atau cerpen:

  1. Dilihat dari panjang ceritanya, cerpen memiliki jalan cerita yang lebih pendek dari novel.
  2. Banyaknya kata yang terdapat dalam cerpen tidak lebih dari 10.000 kata atau kurang dari sepuluh halaman. Ada juga sumber yang menyebutan batas kata yang diperbolehkan dalam cerpen sebanyak 5.000 kata.
  3. Dari isi ceritanya, biasanya menceritakan peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari.
  4. Dari tokoh yang diceritakan, cerpen hanya memusatkan ceritanya pada satu tokoh saja, sehingga tokoh pendukung lain dalam cerita memiliki permasalahan atau konflik yang berhubungan dengan permasalahan atau konflik yang dialami tokoh utama.
  5. Pemakaian kata yang digunakan dalam cerpen merpakan kata – kata sederhana yang mudah dipahami oleh pembaca.
  6. Pesan yang disampaikan oleh cerpen tersebut kuat hingga meninggalkan kesan kisah yang mendalam dari cerrpen tersebut.
  7. Sama seperti tokoh, cerpen biasamya hanya memusatkan jalan ceritanya pada satu peistiwa saja.
  8. Biasanya memiliki alur tunggal dan lurus.
  9. Penokohan dalam cerpen dibuat sederhana, tidak mendalam, serta singkat. Dalam cerpen, fokus cerita hanya pada satu tokoh, sehingga tokoh pendukung lain tidak diceritakan latar belakangnya secara rinci.

Struktur Cerita Pendek (Cerpen)

Berikut ini merupakan sistematika penulisan cerita pendek,

  1. Abstrak

Abstrak berisi ringkasan atau inti yang akan dikembangkan menjadi kerangka jalan cerita pendek yang akan ditulis.

  1. Orientasi

Orientasi meliputi latar dari cerita pendek tersebut, baik latar waktu; latar tempat; serta latar suasana yang terjadi di sepanjang jalan cerita tersebut.

  1. Komplikasi

Kompilasi berisi urutan kejadian-kejadian dalam cerita  pendek yang sistematis yang dikembangkan dari hubungan sebab – akibat. Pada bagian ini, tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita mulai diperkenalkan, serta karakter masing – masing tokoh mulai dimunculkan.

  1. Evaluasi

Konflik cerita menjadi fokus utama pada bagian ini. Mulai dari pengenalan konflik, klimaks, hingga penyelesaian konflik mulai diperkenalkan.

  1. Resolusi

Yang menjadi fokus pada bagian ini adalah penyelesaian konflik yang dihadapi tokoh utama. Pada bagian ini solusi – solusi dari konflik dimunculkan.

  1. Koda (Coda)

Pada bagian terakhir ini berisikan amanat, nilai, maupun pelajaran yang ingin disampaikan penulis melalui cerita pendeknya.

Unsur – Unsur dalam Cerita Pendek

Unsur-unsur dalam cerpen di bagi menjadi :

1. Unsur Intrinsik Cerita Pendek

Unsur intrinsik merupakan unsur-unsur dalam pembentuk cerita  pendek (cerpen) dari dalam cerpen itu sendiri. Berikut ini, merupakan unsur instrinsik cerpen,

1.1. Tema

Merupakan gagasan utama yang menjadi patokan untuk mengembangkan jalannya cerita.

1.2. Alur atau Plot

Merupakan tahapan berjalannya suatu cerita. Mulai dari pengenalan latar, pengenalan tokoh, pengenalan konflik, klimaks dari konflik, pengenalan solusi, penyelesaian. Alur cerita dapat berupa alur maju, alur mundur (flashback), maupun alur campuran.

1.3. Latar atau Setting

Merupakan keadaan yang ingin digambarkan dalam cerita pendek yang meliputi tempat, waktu, serta suasana yang ingin ditampilkan, selain itu latar sosial seperti hubungan tokoh dengan lingkungannya juga masuk dalam unsur ini.

1.4. Penokohan

Merupakan penggambaran watak daru tokoh yang tergambar dari sikap, perilaku, ucapan, pikiran, dan pandangan tokoh tersebut dalam setiap situasi yang dihadapi dalam cerita. Dalam penokohan terdapat dua metode penokohan sebagai berikut,

  • Metode Analitik

Metode ini menggambarkan watak tokoh dengan cara diceritakan secara langsung.

Contoh       :

Amalia adalah anak kedua di keluarganya. Untuk ukuran gadis seusianya, dia seorang yang pemalu. Selain pemalu, ia juga sedikit penakut.

Dari kutipan cerpen di atas, kita dapat mengidentifikasi jika Amalia memiliki watak pemalu dan penakut.

  • Metode Dramatik

Metode ini menggambarkan watak tokoh secara tidak langsung, seperti melalui penggambaran fisik, percakapan, dan reaksi tokoh lain.

Contoh       :

Suasana kelas mendadak tegang dan tiap tiap kali pemuda itu datang. Tak ada yang berani menatap langsung ke arahnya, waktu seakan membeku selama beberapa saat.

“Hei, aku ingin duduk di sini,” pemuda itu berkata pada salah satu siswa. Tanpa membantah, buru – buru siswa tersebut mengemasi tasnya dan berpindah tempat duduk.

Dari kutipan cerpen di atas, kita dapat mengidentifikasi jika pemuda yang diceritakan memiliki watak yang menakutkan, otoriter, dan tidak ramah. Hal ini dapat disimpulkan dari suasan yang ditimbulkan saat kemunculan tokoh dan reaksi tokoh lain terhadap tindakan si pemuda.

1.5. Pesan atau Amanah

Dalam sebuah cerpen, unsur ini merupakan salah satu unsur yang wajib ada. Amanah atau pesan meruoakan nilai didik yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca, baik secara eksplisit dan implisit. Nilai-nilai yang terkandung dapat berupa nilai agama, sosial, moral, dan budaya.

1.6. Sudut Pandang (point of view)

Sudut pandang diciptakan oleh pengarang dan pengarahkan pembaca untuk menilai cerita  pendek tersebut dari sudut pandang yang sudah ia arahkan. Sudut pandang dibedakan menjadi 4 jenis sebagai berikut,

  • Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.

Dalam sudut pandang ini, tokoh ‘aku’ merupakan pusat dari cerita pendek yang dituliskan. Semua rangkaian kejadian yang diceritakan dialami tokoh ‘aku’ tersebut.

  • Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan.

Dalam sudut pandang ini, tokoh ‘aku’ hanya muncul sebagai tokoh pendukung. Tokoh ‘aku’ di sini hanya berperan sebagai saksi kejadian yang dialami sang tokoh utama.

  • Sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Sudut pandang ini menceritakan melalui sudut pandang ‘dia’, tapi pengarang atau narrator seakan mengetahui segala hal yang berhubungan dengan tokoh ‘dia’.

  • Sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat.

Sudut pandang ini menceritakan melalui sudut pandang ‘dia’, namun pengarang atau narrator hanya mengambarkan apa yang dirasakan, dialami, dilihat, dan dipikirkan oleh seorang tokoh. Pengarang bertindak hanya sebagai pengamat gerak gerik dari tokoh utama.

2. Unsur Ekstrinsik Cerita Pendek

Unsur ekstrinsik merupakan sebuah unsur cerpen yang memberntuk cerpen dari luar cerpen sendiri. Berikut ini merupakan unsur – unsur ekstrinsik cerpen,

2.2. Latar Belakang Masyarakat

Latar belakang masyarakat dapat mempengruhi terbentuknya jalan cerita dalam cerpen. Pengaruh latar belakang masyarakat dapat berupa kondisi politik, ideologi, sosial masyarakat, dan kondisi ekonomi masyarakat.

2.2. Latar Belakang Pengarang

Latar belakang pengarang meliputi riwayat hidup yang berisi tentang biografi pengarang secara menyeluruh, faktor ini dapat mempengaruhi pengarang untuk mengarang cerpen berdasarkan pengalaman hidupnya. Selain itu kondisi psikologis pengarang yang meliputi mood dan motibasi akan mempengaruhi apa yang ia tulis, seperti ketika pengarang sedang bersedih ia akan menulis cerpen sedih. Terakhir adalah aliran sastra yang dianut pengarang, kondisi ini akan mempengaruhi gaya penulisan serta bahasa yang digunakan pengarang dalam menulis cerpen.

Cerita pendek memiliki dapat digolongkan menjadi beberapa macam. Penggolongan dalam cerpen dapat dibagi berdasarkan jumlah kata, teknik mengarang, dan aliran sastra.

1. Macam Macam Cerpen Berdasarkan Jumlah Katanya


Berdasarkan jumlah katanya, cerita pendek dibedakan menjadi 3, yakni,

1.1. Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata yang berkisar antara 750 hingga 1.000 kata.

Cerpen ini sering disebut cerita mini atau cermin. Cerpen jenis ini biasanya penulisannya to the point, tidak menggunakan penjelasan maupun deskripsi yang mendalam dan bertele-tele. Contoh cerpen mini antara lain “Mengenang Sendok dan Sedotan” karya penulis Dewi Lestari atau akrab dikenal sebagai Dee. Contoh cerpen mini lain adalah cerpen “Rendra” karya Putu Wijaya.

Mengenang Sendok dan Sedotan

Karya: Dewi “Dee” Lestari

Di tengah sawah dan hotel mewah di Ubud, saat saya dan beberapa rekan penulis diminta hadir oleh UNAIDS untuk program pengenalan HIV/AIDS. Saya sempat bertanya dalam hati: adakah titik balik di mana virus mematikan itu dapat menjadi akselerator kehidupan? Dan ‘hidup’ dalam konteks ini artinya bukan berapa lama kita bernapas, melainkan seberapa bermakna kita mampu memanfaatkan hidup, mortalitas yang berbatas ini? Momen serupa saya alami ketika menghadiri peluncuran buku almarhumah Suzanna Murni, seorang aktivis HIV/AIDS yang mendirikan Yayasan Spiritia.

Saya terenyak dan terhanyut membaca buku Suzanna. Pertama, karena otentisitas dan kejujurannya. Kedua, karena Suzanna adalah seorang penulis yang sangat bagus. Dan kembali saya merenung, HIV bisa jadi hadiah terindah yang didapat oleh Suzanna Murni. Dengan mengetahui keberadaan bom waktu yang dapat menyudahi hidupnya setiap saat, Suzanna menggunakan energi dan waktunya untuk membangun, membantu, dan berkarya.

Sementara kebanyakan dari kita menjalani hari-hari seperti mayat hidup yang bergerak tapi mati, ada dan tiada, tanpa makna dan tujuan, tanpa menghargai keindahan dan keajaiban proses bernama hidup. Saya lalu kembali dihubungi oleh UNAIDS untuk menjadi mentor dalam program pelatihan menulis bagi para ODHA. Dan di sinilah untuk pertama kalinya saya berinteraksi dekat dengan teman-teman ODHA. Sejujurnya, saya merasa tidak perlu mencantumkan keterangan ‘ODHA’, yang seolah-olah memagari mereka dengan saya atau dengan orang-orang lain. Sama halnya seperti saya merasa tidak perlu mengatakan ‘teman-teman leukeumia’ atau ‘teman-teman hipertensi’. ODHA pasti mati, saya yang bukan ODHA juga pasti mati. Bom waktu itu ada di mana-mana. Kematian adalah jaminan, sebuah kepastian. Caranya saja yang bervariasi, hasil akhir toh sama.

Di sebuah penginapan di Karang Setra, saya berkenalan dengan empat peserta program mentoring. Saya mengamati mereka satu per satu, yang kebetulan semuanya perempuan. Satu bertubuh kecil mungil. Dua peserta lain posturnya jauh lebih berisi ketimbang saya. Satu sedang mengandung enam bulan. Tugas demi tugas mereka lakukan dengan cemerlang, bahkan di luar dugaan. Hanya ada satu program yang kami terpaksa batalkan: menulis di kebun binatang. Pada saat itu isu flu burung sedang santer-santernya di kota Bandung, dan demi keamanan kondisi kesehatan mereka, kami memutuskan untuk tidak pergi. Barulah saya merasakan ada restriksi itu, kondisi-kondisi khusus yang membedakan ruang gerak kami. Selebihnya, tak terasa ada perbedaan sama sekali. Di luar dari isi tulisan mereka, tidak ada kesedihan atau keputusasaan yang terungkap.

Tak seperti reklame tentang ODHA yang selama ini beredar dan mengeksploitasi ketidakberdayaan, terkapar kurus kering kerontang menunggu ajal. Saya hanya berkenalan dengan pergumulan mereka lewat apa yang mereka tulis. Dari sanalah saya mencoba memahami beragam proses yang mereka lewati dengan HIV, terutama implikasinya terhadap semua yang mereka kenal keluarga, teman-teman, kekasih, dan seterusnya. Saat kami mengobrol langsung, yang ada hanyalah tawa. Dan saya tersadar, kekuatan itu bisa hadir karena mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Konseling, penerangan, aktivitas, dan kebersamaan, dapat menyalakan pelita dalam diri mereka untuk menjadi kekuatan dan bukan menjadi yang terbuang.

Pada malam terakhir pelatihan, salah satu fasilitator berulangtahun dan merayakannya di restoran di Dago Pakar. Sebagaimana hari-hari mentoring, kami asyik mengudap sambil menghadap ke lembah kota yang menyala pada malam hari. Sambil mengobrol dan ketawa-ketiwi, kami mencicip-cicip makanan dan minuman satu sama lain. Hingga kami berpisah, saya kembali ke rumah, dan tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Sebuah pesan masuk: Mbak, makasih ya buat malam ini. Kami terkesan sekali Mbak mau berbagi sendok dan sedotan dengan kami karena ortu saja belum tentu mau.

Terima kasih sudah menambah kepercayaan diri kami. Lama saya terdiam, memikirkan apa gerangan yang telah saya lakukan. Momen sepanjang di restoran itu rasanya berlalu wajar-wajar saja. Lama baru saya ingat, dalam acara saling coba-cobi tadi, saya telah menghirup minuman dari gelas memakai sedotan yang mereka pakai, lalu mencicip es krim dengan sendok yang mereka pakai. Lama saya termenung, mengenang sedotan yang sekian detik mampir di bibir saya, mengingat sendok yang sekian detik menghampiri lidah saya. Betapa hal kecil yang saya lewatkan begitu saja ternyata menjadi perbuatan besar dan berkesan di mata mereka. Dan barangkali demikian pula halnya dengan rangkaian keajaiban dalam hidup ini. Sering kita berjalan mengikuti arus tanpa sempat lagi mengamati keindahan-keindahan besar yang tersembunyi dalam hal-hal kecil yang kita lewati.

Kita menanti perbuatan-perbuatan agung yang tampak megah dan melupakan bahwa dalam setiap tapak langkah ada banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermakna. Jika saja virus itu tidak ada dalam darah mereka, perbuatan spontan saya tidak akan berarti. Saya mungkin tidak akan dikirimi pesan itu, dan saya tidak akan merenungi hal ini. Pertanyaan saya di Ubud terjawab dengan sebuah pengalaman. Pada satu titik, virus itu telah menyentuh hidup saya. Menjadi akselerator kehidupan saya. Bukan untuk memperlama denyut jantung, tapi mengajarkan saya bahwa hidup itu amat berharga dan selalu kaya makna, andai saja kita memilih untuk mengetahuinya. Suzanna Murni tahu hal itu. Demikian pula para peserta mentoring tadi. Saya hanya berharap mereka terus mengingatnya, demikian juga kita. Pesan singkat itu dikirim tanggal 13 Mei 2006, dan masih saya simpan hingga hari ini.

1.2. Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata yang berkisar antara 3000 hingga 4000 kata.

Cerpen ini sesuai namanya, merupakan gambaran cerita pendek yang ideal, baik dari segi banyaknya kata serta bahasa dan isinya. Cerpen ideal memiliki bahasa da nisi yang mudah dipahami, sehingga diibaratkan jika cerpen ini dapat dibaca dalam sekali duduk atau kurang dari satu jam. Serta isinya tidak mudah terlupakan oleh pembacanya. Salah satu contoh cerpen ideal adalah cerpen “My Last Love” karya Agnes Davonar.

1.3. Cerpen panjang, cerpen dengan jumlah kata yang mencapai 10.000 kata.

Dalam beberapa definisi cerpen panjang dibatasi dengan jumlah kata sebanyak 10.000 kata atau sekitar delapan hingga sepuluh halaman, Namun pada nyatanya novel jenis ini banyak ditulis hingga melebihi 10.000 kata. Novel ini sangat populer di Eropa pada sekitar akhir abad ke-19 hingga abad ke-20. Cerpen dengan panjang lebih dari 10.000 kata sering dikategorikan pula sebagai novella atau novellet, karangan yang lebih pendek dari novel. Contoh novella yang terkenal adalan cerpen panjang “Lelaki Tua dan Laut” karya Ernest Hemingway yang bercerita tentang seorang nelayang tua dari Kuba bernama Santiago yang berjuang di tengah laut lepas demi mendapatkan seekor ikan. Contoh novella lain adalah “Kamar Inap Nomor 6” karya Anton Chekhov yang menceritakan seorang dokter dengan pasiennya di suatu kamar rumah sakit, cerpen ini bertujuan menggambarkan kebobrokan sosial di Rusia pada masa silam, serta melancarkan kritik sosial.

2. Macam Macam Cerpen Berdasarkan Teknik Mengarang

2.1. Cerpen Sempurna (well made short-story)

Cerpen ini ditulis dengan fokus pada satu tema yang memiliki plot yang sangat jelas serta ending yang mudah dipahami. Umumnya, cerpen jenis ini bersifat konvensional dan ditulis berdasarkan realita yang ada. Cerpen jenis ini mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca awam sekali pun. Contoh cerpen jenis ini sangat banyak kita temukan saat ini.

2.2. Cerpen Tak Utuh (slice of life short-story)

Cerpen ini tidak berfokus pada satu tema atau temanya terpencar-pencar. Alur yang digunakannya pun tidak terstruktur dan terkadang di buat mengambang oleh penulisnya. Umumnya cerpen jenis ini bersifat kontemporer dan ditulis berdasarkan gagasan atau ide – ide orisinil dari pengarangnya sehingga cerpen jenis ini juga biasa disebut dengan cerpen ide atau cerpen gagasan. Pembaca awam akan susah memahami cerpen jenis ini, hingga harus dibaca berulang – ulang agar dapat dipahami sebagai mana mestinya. Bagi para pembaca awam, cerpen jenis ini juga disebut sebagi cerpen kental atau cerpen berat. Contoh cerpen jenis ini banyak kita temui di antara cerpen – cerpen karya penulis ulung, seperti Putu Wijaya dan W. S. Rendra.

3. Macam Macam Cerpen Berdasarkan Aliran Cerita

Aliran – aliran pada cerita pendek atau cerpen merupakan filosopi dasar yang mencirikan gaya penulisan atau pengucapan sastra seorang sastrawan. Berdasarkan aliran – aliran cerita pendek, berikut ini beberapa macam cerpen tersebut,


3.1. Realisme

Aliran realism muncul sekitar abad ke-18. Aliran ini merupakan aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan secara sesungguhnya. H. B. Jassin mendefinisikan aliran ini sebagai aliran yang mengambarkan karya senin seperti keadaan yang sebenarnya terlihat oleh mata. Pengarang menempatkan dirinya sebagai pengamat yang objektif sehingga dalam menuliskan karyanya dibuat teliti, tanpa prasangka, tanpa bercampur dengan tafsiran subjektif, maupun memaksakan pandangan atau kehendaknya kepada pelaku atau tokoh maupun pembaca ceritanya. Aliran ini bertolak belakang dengan aliran romantisme yang dianggap cengeng dan berlebihan oleh penganut aliran realis. Karya realisme banyak mengambil cerita atau gambaran dari masyarakat bawah, seperti kaum tani; buruh; gelandangan; pelacur; dan premanisme.

3.2. Impresionalisme

Impresionalisme berasal dari kata impesi yang berarti kesan. Berbeda dari aliran realisme, menurut J. S. Badudu, kaum penganut aliran impresionalisme tidak akan melukiskan hal – hal yang dilihatnya secara mendetail, namun hanya kesan pertama yang melekat dari penglihatan sang pengarang itulah yang akan diceritakan kembali oleh sang pengarang kepada pembacanya.

3.3. Naturalisme

Aliran ini dapat dikatakan sebagai cabang dari aliran realisme. Aliran naturalism cenderung menggambarkan hal apapun yang nyata dirasakan, tidak seperti aliran realism yang kebanyak berkutat tentang kehidupan sehari – hari. Naturalisme lebih cenderung menggambarkan hal – hal buruk, jorok, bahkan berbau pornografis, namun aliran naturalism juga melancarkan kritik sosial secara lebih tajam. Penganut aliran naturalism akan mengungkapkan aspek – aspek alam semesta yang bersifat fatalis dan mekanis, serta mementingkan gerak dan aktivitas manusia yang mewujudkan kebendaan maupun kehidupan moral yang rendah.

3.4. Neo-Naturalisme

Aliran ini merupakan bentuk aliran baru atau lanjutan dari aliran naturalism. Aliran ini menggabungkan aliran realism dengan naturalism, di mana aliran ini menggambarkan hal – hal buruk maupun kenyataan yang baik. Aliran ini muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap aliran realisme yang dianggap tidak mampu menyatakan ekspresi jiwa pengarang serta ketidakpuasan terhadap aliran naturalisme yang dianggap kurang mengekspresikan hal secara ekstrim.

3.5. Determinisme

Determinisme berasal dari kata ‘to determine’ yang berarti menentukan. Aliran ini merupakan cabang dari aliran naturalisme. Aliran ini berpusat pada takdir, di mana menurut kaum determinisme, takdir merupakan suatu hal yang ditentukan oleh unsur biologis dan lingkungan. J. S. Badudu menjelaskan, jika aliran ini akan memandang nasib sebagai bukan sesuatu yang ditentukan oleh  Tuhan, melainkan nasib ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitarnya. Aliran ini berpendapat jika ke-mlarat-an yang dialami seseorang, sifat jahat yang dimiliki seseorang, maupun sakit yang diderita seseorang bukanlah karena takdir Tuhan, melainkan karena pengaruh lingkungan. Contoh karya – karya yang menggunakan aluran ini di antaranya “Neraka Dunia” karya Nur St. Iskandar, “Pada Sebuah Kapal” karya N. H. Dini, serta “Atheis” karya Achdiat K. Mihardja.

3.6. Ekspresionalisme

Ekspresionalisme dijelaskan oleh H. B. Jassin merupakan suatu aliran di mana penganutnya mampu mengenali manusia hingga pikiran dan perasaan yang paling dalam, kesedihan dan kesengsaraan, ketinggian rasa susila, dan kerendahan hawa nafsu. Pada aliran ini, si pengarang seolah – olah masuk ke dalam tokoh – tokohnya dan aktif di dalam jiwa tokoh tersebut Aliran jenis ini menjadikan pengarang sebagai pemain yang subjektif yang turut menyatakan apa yang menjadi dirinya pada setiap cerita  yang ia tuliskan.

3.7. Romantisme

Aliran romantisme memfokuskan pada perasaan. Romantisme kadang dianggap sebagai penyakit kaum muda yang belum banyak mengecap pahit – manis kehidupan, di mana mereka lebih sering mengukur segalanya dengan intuisi dan perasaan tanpa melibatkan otak. Aliran romantisme sangat mementingkan penggunaan kata – kata indah serta pengandaian atau awang – awang di alam mimpi. Karya romantisme ada jenis yang cengeng, yang melukiskan kegalauan jiwa remaja yang berlagu tentang bahagia romansa seakan dunia hanya milik berdua, berlarian di taman bunga yang indah dipayungi awan dan pelangi yang menghiasi. Namun, ada pula jenis romantisme dewasa yang dibalut dengan pengalaman dan pengetahuan yang mampu melahirkan karya sastra mengharukan, seperti “Romeo dan Juliet” karya Shakespeare serta “Les Mirables” karya Victor Hugo.

3.8. Idealisme

Aliran ini didefinisikan oleh Sabarudin Ahmad sebagai aliran romantisme yang mendasarkan cita – cita ceritanya bertumpu pada cita – cita atau ide si penulis semata. Pengikut aliran ini akan memandang jauh ke depan ke masa mendatang dengan segala kemungkina yang diharapkan akan terjadi. Karya aliran ini umumnya indah dan menawan, salah satu contohnya adalah penciptaan tokoh Tuli dalam cerpen Layar Terkembang yang diceritakan mampu mewujudkan cita – citanya untuk mengangkat harkat markabat kaum wanita seperti yang dicita – citakan R. A. Kartini. Karya lain yang tergolong aliran idealisme antara lain “Pertemuan Jodoh” karya Abdul Muis serta “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli.

3.9. Surealisme

Aliran ini muncul di Perancis dalam rentang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Tokoh aliran ini berusaha menggambarkan suatu dunia mimpi tanpa mengarahkan maksudnya, sehingga pembaca didorong untuk memberikan penafsiran mereka sendiri–sendiri. Penggambaran cerita dalam aliran surealisme umumnya melompat – lompat sehingga sulit untuk dipahami. Pembaca dituntut mampu menyatukan sendiri tata bahasa, pemikiran, serta logika yang ditampilkan secara acak oleh pengarang di dalam karya surealismenya.

Demikian penjelasan tentang macam macam cerpen dan contohnya. Semoga artikel ini bermanfaat.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,
Post Date: Wednesday 16th, November 2016 / 04:00 Oleh :
Kategori : Cerita