X

30 Contoh Makna Refleksi dalam Kalimat

Contoh Makna Refleksi dalam Kalimat – Setelah sebelumnya pembahasan berada pada cakupan jenis jenis makna, seperti artikel tentang  contoh makna kias, contoh makna asosiasi, contoh makna stilistik, contoh makna referensial dan non referensialcontoh makna afektif,  contoh makna kolokatif, dan makna struktural. Pada kesempatan kali ini pembahasan akan difokuskan pada contoh makna refleksi. Selamat belajar!

Apa itu Makna Refleksi?

Berbicara tentang makna refleksi maka akan berkaitan dengan makna konseptual yang telah dipelajari sebelumnya. Makna refleksi timbul akibat ada hubungan antara makna konseptual yang satu dengan makna konseptual yang lainnya. Hubungan kedua makna ini ditimbulkan oleh penyapa atau pembicara, sehingga ada efek berupa refleksi kepada makna yang lain. Makna refleksi erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat sakral (berhubungan dengan kepercayaan), tabu (berupa larangan atas suatu hal), dan tata krama (tentang kesopanan).

Jenis Makna Refleksi

Makna refleksi dibedakan menjadi dua jenis yaitu makna piktoral dan makna gereplektif. Makna refleksi yang berkaitan dengan hal yang sakral dan tabu disebut dengan makna piktoral. Sedangkan makna refleksi yang berkaitan dengan tata krama disebut dengan makna gereplektif.

1. Makna Piktoral

Makna piktoral berkaitan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Jenis makna ini biasanya ditemukan pada kata-kata yang kurang pantas digunakan, sehingga dianggap tabu. Pemakaian kata-kata seperti ini kemudian akan menjadikan orang yang menggunakannya dipandang sebagai orang yang kurang sopan. Kata yang bermakna piktoral biasanya akan menyinggung perasaan pendengar atau pembaca. Kata-kata semacam ini seperti kata-kata yang berhubungan dengan kotoran, seks, cacat, kematian. Untuk menghindari pemakaian kata yang bermakna piktoral, biasanya digunakan kata-kata lain yang lebih halus. Contoh kata yang bermakna piktoral antara lain:

  • Kata “buta” diperhalus menjadi “tuna netra”
  • Kata “pelacur” diperhalus menjadi “tuna susila”
  • Kata “tewas” diperhalus menjadi “meninggal”
  • Kata “tewas  (pejuang)” diperhalus menjadi “gugur”
  • Kata “bersetubuh” diperhalus menjadi ” bersenggama”
  • Kata “bangkai” diperhalus menjadi “jenazah”
  • Kata “tuli” diperhalus menjadi “tuna rungu”
  • Kata “gelandangan” diperhalus menjadi “tuna wisma”
  • Kata “bodoh” diperhalus menjadi “kurang pandai”
  • Kata “dikubur” diperhalus menjadi “dimakamkan”
  • Kata “kuburan” diperhalus menjadi “pemakaman”
  • Kata “berak” diperhalus menjadi “buang air besar”
  • Kata “mencret” diperhalus menjadi “diare”

Selain muncul dari penggunaan kata, makna piktoral dapat juga muncul karena penggunaan kalimat secara utuh. Kalimat yang dimaksud di sini adalah kalimat yang mengarahkan pembaca atau pendengar kepada rasa jijik sehingga dapat mempengaruhi aktivitasnya yang lain. Misalkan saja ketika ia sedang makan, lalu mendengar seseorang berbicara tentang hal-hal yang menjijikkan maka seketika itu juga ia merasa jijik dan secara spontan menghentikan makannya. Kalimat ini disebut dengan kalimat bermakna piktoral.

2. Makna Gereplektif

Makna gereplektif disebut juga sebagai makna pantangan. Makna gereplektif berhubungan dengan kepercayaan yang bersifat magis. Bagi masyarakat tertentu, beberapa kata yang mengandung makna gereplektif pantang untuk diucapkan, sehingga sebaiknya diganti dengan kata lain yang bermakna sama. Contoh kata yang bermakna gereplektif antara lain:

  • Kata “harimau” diganti dengan “raja hutan”
  • Kata “ular” diganti dengan “tali /ikat pinggang”
  • Kata “darah” diganti dengan “keringat”
  • Kata “gajah” diganti dengan “kaki bumbung”
  • Kata “hantu” diganti dengan “nenek”
  • Kata “tikus” diganti dengan “den bagus”
  • Kata “koruptor” diganti dengan “tikus kantor”
  • Kata “penipu wanita” diganti dengan “buaya darat”

Contoh Makna Refleksi

Ulasan di atas telah memaparkan beberapa contoh kata bermakna refleksi, baik yang tergolong makna piktorial maupun makna gereplektif. Pada tahap ini akan diberikan contoh penggunaan kata bermakna refleksi dalam kalimat.

  1. Pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta banyak pejuang yang gugur dalam melawan penjajah.
  2. Dalam razia kemarin malam, polisi dan Pol PP berhasil menjaring puluhan tuna susila.
  3. Anak itu kurang pandai, jika ia mau rajin belajar pasti bisa sukses.
  4. Walaupun mereka itu tuna netra, tetapi keahliannya sungguh luar biasa.
  5. Pemerintah hampir kewalahan untuk menertibkan para tuna wisma dan meminta mereka untuk tinggal di tempat khusus yang telah disediakan dinas sosial.
  6. Akibat terlalu banyak mengkonsumsi sambal, tadi pagi aku diare.
  7. Penemuan jenazah bayi di pinggir kali Gajah menggemparkan masyarakat sekitar kali.
  8. Islam mengatur dengan jelas cara bersenggama manusia agar tidak menyerupai binatang.
  9. Pekerjaannya sebagai tuna susila bukanlah pilihannya, justru orang terdekatnya lah yang menjerumuskannya ke dunia gelap ini sejak ia masih remaja.
  10. Walaupun ia seorang tuna rungu, tapi ia selalu berusaha sama seperti yang lain.
  11. Setiap orang tentu ingin meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.
  12. Kakek selalu mengingatkan untuk tidak bermain-main di dalam hutan saat malam hari, karena sang raja hutan selalu mencari mangsa.
  13. Buah pepaya dan pisang ambon dapat melancarkan buang air besar.
  14. Kancil mengelabui pemangsanya dengan ikat pinggang dari raja Sulaiman.
  15. Ayah akan mempertaruhkan seluruh darahnya untuk kehidupan anak-anaknya.
  16. Kaki bumbung akan selalu mengingat orang yang berjasa kepadanya walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.
  17. Riko selalu takut pergi ke pemakaman karena pernah diganggu oleh nenek di tempat itu.
  18. Akibat serangan den bagus, tanaman palawija kakek dan nenek terancam gagal panen.
  19. Pemerintah harus serius membasmi tikus kantor yang bersemayam hampir di semua lembaga pemerintahan.
  20. Setelah tobat menjadi buaya darat, Romi kini berubah menjadi seorang laki-laki yang senantiasa menghormati wanita.
  21. Jenazah yang ditemukan tanpa identitas tetap dimakamkan secara layak.
  22. Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka, kelima bersaudara itu kini menjadi tuna wisma.
  23. Kotoran itu sangat bau dan menjijikkan sekali.
  24. Gang kecil di tengah pasar itu penuh dengan sampah yang berbelatung.
  25. Kakus itu sangat kotor, kotorannya tersebar di mana-mana.
  26. Kucing mati itu kini dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuan belatung yang menggeliat-liat.
  27. Bau sampah ini sangat menusuk di hidung.
  28. Jenazah kebakaran itu hangus hingga menghitam seperti arang.
  29. Akibat tidak ada keluarga yang mengurus, nenek renta itu hanya terbaring dengan kotoran yang tersebar di sekitarnya.
  30. Jangan pernah kau sebut nama itu, nama itu membuatku sangat mual.

Sekian pembahasan mengenai contoh makna refleksi dalam kalimat. Semoga pemaparan materi dalam artikel ini mudah dipahami dan juga dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Terima kasih.

Categories: makna kata
Ratna Sumarni S.Pd: