Sponsors Link

5 Contoh Karangan Persuasi tentang Pendidikan

Sponsors Link

Contoh Karangan Persuasi tentang Pendidikan – Dalam dunia tulis menulis, kita telah mengenal berbagai macam bentuk karangan. Mulai dari karangan narasi, karangan deskripsi, karangan persuasi, karangan eksposisi dan karangan argumentasi. Dalam artikel ini kita akan khusus membahas contoh karangan persuasi tentang pendidikan. Untuk itu, langsung saja kita masuk ke pembahasan tentang artikel persuasi.

Pengertian Karangan Persuasi

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah ‘persuasi’ diartikan sebagai ‘ajakan kepada seseorang dengan cara memberikan alasan dan prospek yang meyakinkannya’ atau ‘bujukan halus’ atau ‘imbauan’. Sesuai dengan namanya, karangan persuasi merupakan karangan yang bertujuan untuk mengajak, menghimbau atau mempengaruhi pembaca untuk melakukan sesuatu. Karangan persuasi juga menyajikan bukti-bukti yang menyakinkan pembaca untuk melakukan suatu hal. Karangan persuasi umumnya berupa imbauan, peringatan, ataupun iklan.

Ciri Ciri Karangan Persuasi

Seperti halnya bentuk karya tulis lain, untuk membedakan karangan persuasi dengan karangan lain, karangan persuasi memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:

  • Karangan persuasi merupakan karangan yang mempunyai tujuan untuk mempengaruhi pembaca agar mau melakukan suatu hal seperti yang penulis minta atau harapkan.
  • Karangan persuasi, di dalamnya terdapat fakta fakta yang mendukung yang bertujuan untuk meyakinkan pembacanya.
  • Karangan persuasi tidak menimbulkan konflik di dalam karangannya.

Contoh Karangan Persuasi Pendidikan

Berikut ini adalah contoh karangan persuasi, khususnya tentang pendidikan

  1. Mari Giat Belajar

Pro kontra tentang hasil ujian nasional (UN) sebagai penentu kelulusan seorang siswa memang telah menjadi perdebatan dari dahulu. Banyak yang mengganggap tidak adil apabila proses belajar selama tiga tahun di bangku sekolah hanya ditentukan oleh ujian tertulis selama tiga hari. Akibatnya, tak jarang banyak siswa yang tidak bersungguh sungguh dalam menjalani proses belajar di sekolah karena menganggap hal terpenting adalah hanya bisa mengerjakan ujian nasional (UN).

Paradigma ini memunculkan fenomena belajar ‘sistem kebut semalam’ (SKS) di kalangan pelajar setiap kali akan menghadapi ujian. Pada tahun 2008, pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan tentang kriteria kelulusan bagi siswa siswi di bangku sekolah menengah pada khususnya, yakni memasukkan nilai rapor tiap semesternya sebagai salah satu kriteria kelulusan atau dengan kata lain nilai rapor selama duduk di bangku sekolah ikut menjadi bobot kelulusan.

Hal tersebut tentu sedikit banyak merubah pandangan siswa siswi, di mana siswa siswi dituntut untuk menjaga konsistensi nilai mereka di setiap semesternya. Maka dari itu, marilah kita persiapkan bekal kelulusan kita sedini mungkin. Mulailah dengan belajar secara teratur, karena selain membantu ketika mengerjakan soal ujian, belajar dengan teratur juga membuat pemahaman kita akan materi yang kita pelajari lebih baik.

Selain itu, bagi siswa siswi tahun terakhir di sekolah menengah atas, belajar dengan giat merupakan suatu hal yang wajib mengingat nilai sekolah selain menentukan kelulusan juga merupakan salah satu kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penerimaan mahasiswa baru lewat jalur SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri). Kriteria yang menjadi pertimbangan dalam penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN, antara lain: nilai rapor mata pelajaran yang masuk ujian nasional, nilai per mata pelajaran yang berhubungan dengan jurusan yang dipilih, serta konsistensi peringkat dalam kelas.

Mengingat hal hal tersebut tentu dibutuhkan usaha yang tidak hanya dibangun dalam waktu semalam sehingga dibutuhkan konsistensi yang baik dalam belajar. Marilah kita giat belajar mulai dari sekarang! Tidak ada kata terlambat dalam memulai, sebelum menyesal di kemudian hari.

  1. Mari Mengukir Prestasi Sedini Mungkin

Tidak ada kata ‘terlalu dini’  dalam hal mengukir prestasi. Ungkapan tersebut nampaknya sangat cocok dengan raihan yang diperoleh Wei Yi, yakni grand master termuda keempat di dunia. Wei Yi mendapatkan gelar grand master-nya pada usia  13 tahun delapan bulan usai meraih norma grand master ketiganya dii Turnamen Catur Reykjavik Open 2013, setelah  mendapatkan dua norma grand master sebelumnya pada kompetisi World Junior Championship serta Indonesia Open pada tahun 2012.

Indonesia juga memiliki grand master muda, yakni Medina Warda Aulia. Gadis kelahiran Jakarta tahun 1997 ini mendapatkan gelar grand masternya pada usia 16 tahun 2 bulan. Medina juga merupakan pemegang rekor muri dan dunia sebagai pecatur yang mampu mengalahkan 650 pecatur lain pada kompetisi Indosat Grand Master Chess Match. Atas prestasinya di bidang catur, Medina memperoleh penghargaan Stya Lancana Wira Karya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2008 lalu.

Belum lagi kisah bocah asal Amerika, Tanishq Abraham, yang memperoleh tiga gelar sarjana di usianya yang ke sebelas tahun. Tanishq memperoleh tiga gelar sarjana, yakni sarjana di bidang matematika, sains, dan bahasa asing dari American River College di Sacramento, Amerika Serikat. Sebelumnya ia juga telah mencuri perhatian publik karena berhasil lulus sekolah menengah atas pada usia 10 tahun. Di Indonesia sendiri, tercatat sarjana kedokteran termuda, yakni Rafidah Helmi, mahasiswi lulusan Unissula Semarang. Rafidah Helmi memperoleh gelar sarjana kedokterannya pada usia  17 tahun pada 2016 lalu. Rafidah masuk sekolah dasar pada usia empat tahun dan selama menempuh pendidikan SD, SMP, dan SMA, Rafidah selalu menjalani program akselerasi sehingga ia telah terdaftar sebagai mahasiswa di usianya yang ke-14. Baginya tidak ada hal  khusus untuk mendapatkan prestasinya sekarang, ia menuturkan jika yang terpenting adalah menentukan tujuan dari awal dan bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan tersebut.

Beberapa contoh pemuda pemuda berprestasi di atas setidaknya membuktikan jika tidak ada kata terlalu dini atau terlalu cepat dalam mengukir prestasi. Prestasi tidak harus selalu sesuai dimulai langsung dari sesuatu yang besar, mengukir prestasi dapat dimulai dari sekedar menekuni hobi dengan serius. BIla menyukai akademik, maka berprestasilah di bidang akademik. Bila  memang tidak menonjol di bidang akademik, namun ahli di bidang olahraga, maka tekunilah. Tidak ada hal yang lebih menenangkan dibandingkan berprestasi di bidang yang kita sukai. Terlebih lagi bagi siswa siswa sekolah menengah atas, prestasi di luar nilai sekolah merupakan poin plus tersediri pada saat seleksi penerimaan mahasiswa baru melalu jalur SNMPTN.

Oleh karena itu, mari kita berlomba lomba dalam mengukir prestasi mulai sejak dini. Tunjukkan jika bangsa ini memiliki masa depan yang cerah lewat pemuda pemudinya yang berprestasi!

  1. Tuntutlah Ilmu Setinggi Mungkin, Kejarlah Ilmu Sejauh Mungkin

Tidak ada istilah ‘terlalu muda’ dalam mengukir prestasi, begitu pula tidak istilah ‘terlalu tua’ untuk menuntut ilmu. Ungkapan tersebut nampaknya sangatlah tepat untuk menggambarkan orang orang luar biasa seperti Shigemi Hirata. Pada usianya yang ke 96 tahun, Shigemi Hirata mampu mendapatkan gerlar sarjananya sekaligus dinobatkan sebagai sarjana tertua oleh Guinness World Records.

Hirata yang lahir pada 1919 silam, mulai mengerjar gelar sarjananya ketika berusia 85 tahun setelah ia pension, dan mengambil bidang studi seni keramik. Setelah sebelas tahun kemudian, Hirata pun akhirnya mendapatkan gelar Bachelor of Arts dari Kyoto University of Art and Design setelah melalui perjuangan yang panjang. Meski begitu semangatnya dalam menuntut ilmu masih menggebu gebu, Hirata pun mempertimbangankan untuk melanjutkan ke sekolah pasca sarjana.

Di Palestina, seorang nenek yang berusia 82 tahun juga menjadi terkenal setelah kisahnya menjadi sarjana tersebar di dunia maya. Nenek Fatima mendapatkan gelar Sarjana Hadist dari Aqsa University, Gaza, Palestina. Meraih gelar sarjana merupakan impiannya yang akhirnya terwujud, setelah sebelumnya terpaksa tertunda di kala muda karena adanya konflik berkepanjangan di negaranya. Melihat perjuangan nenek tersebut, banyak netizen yang memberikan dukungan positif dan apresiasi terhadap semangat yang dimiliki nenek tersebut.

Satu lagi tokoh yang patut diacungi jempol semangatnya dalam menuntut ilmu ialah Diana Patricia Hasibuan. Nenek dari 13 cucu ini mampu meraih gelas master di usia yang tidak lagi muda, yakni 71 tahun. Prestasi tersebut mampu mencatatkan nama Patricia sebagai peraih gelar master tertua di Indonesia dan tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI). Awalnya karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung, Patricia harus rela mengubur mimpi masa mudanya menjadi seorang dokter. Meski pun begitu, Diana lantas tak surut semangatnya dalam menuntut ilmu, ia akhirnya mendaftarkan diri sebagai mahasiswa pada taun 1998. Kini Patricia berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S3 untuk mendapatkan gelar doctor, Patricia telah membuktikan jika usia bukanlah suatu halangan dalam menuntut ilmu dan pesan inilah yang ingin ia sampaikan pada generasi muda saat ini.

Sebagai generasi muda yang dianugerahi semangat serta kondisi yang masih prima hendaknya kita tidak boleh kalah dari tokoh tokoh tersebut. Pendidikan merupakan sesuatu hal yang penting dan sangat dibutuhkan saat ini. Tidak perlu takut dengan anggapan jika mengenyam bangku kuliah itu mahal karena sekarang banyak sekali beasiswa beasiswa yang diberikan oleh berbagai institusi, baik pemerintah maupun swasta. Tidak hanya kesempatan mengenyam pendidikan di Indonesia, kini kesempatan untuk menuntut ilmu ke luar negeri juga bukanlah hal yang mustahil dan sangat terbuka lebar saat ini. Oleh karena itu, kita hanya perlu punya niat dan semangat yang kuat serta bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu untuk mendapatkan kesempatan kesempatan tersebut.

Menuntut ilmu tidak hanya dibatasi oleh gelar akademik saja, melainkan menuntut ilmu juga dapat kita lakukan di mana saja dan kapan saja. Kita dapat meraih ilmu dari membaca buku buku, jurnal jurnal, bahkan dengan update tentang informasi terbaru dari berbagai situs pemberitaan maupun surat kabar. Selain itu, berkumpul dengan orang orang yang ahli di bidangnya maupun sekedar bertukar pikiran dengan orang orang sekitar juga merupakan bentuk menuntut ilmu. Ilmu membuat seseorang menjadi orang yang berguna baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain, ilmu juga merupakan investasi terbaik ditengah kemajuan teknologi yang tak terbendung seperti saat ini, sehingga ilmu mampu membawa perubahan kehidupan kea rah yang lebih baik. Ilmu juga merupakan benteng terkuat diri kita dari hal hal yang sifatnya mencelakaan baik baik diri kita sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, tuntutlah ilmu setinggi mungkin dan kejarlah ilmu sejauh mungkin!

  1. Mari Tingkatkan Kesadaran Terhadap Pentingnya Pendidikan

Memiliki anak yang cerdas dengan bakat yang terasah merupakan impian bagi setiap orang tua di dunia ini. Tentu orang tua perlu sadar betul tentang pendidikan bagi anak anaknya. Orang tua merupakan lembaga pertama yang berkewajiban dalam menyampaikan ilmu pada anak anaknya. Orang tua juga bertanggung jawab atas pendidikan bagi anak anaknya.

Namun meskipun orang tua merupakan guru terbaik, namun memiliki pendidikan formal juga merupakan suatu keharusan. Mengingat ilmu pengetahuan yang semakin berkembang serta era globalisasi yang semakin menyamarkan batasan antar negara, pendidikan sudah menjadi hal yang penting dan tidak dapat ditawar lagi. Tingkat putus sekolah di Indonesia masih tinggi, tercatat 60 persen siswa sekolah menengah atas di Indonesia mengalami putus sekolah berdasarkan data dari UNESCO Institute of Statistic (UIS)  dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat putus sekolah SMA tertinggi kedua di dunia setelah Cina. Fakta ini menyiratkan jika kesadaran akan pendidikan di Indonesia masih kurang.

Orang tua diharapkan mampu memotivasi serta mendukung anak dalam hal mengenyam pendidikan, mengingat pentingnya pendidikan bagi masa depan anak. Pendidikan merupakan salah satu kunci terpenting untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga dianggap mampu memperkecil tingkat kemiskinan di Indonesia.

Di era perdagangan bebas seperti saat ini penguasaan skill dan ilmu merupakan hal yang mutlak dimiliki agar mampu bersaing dengan sumber daya manusia asing yang berdatangan ke Indonesia. Jangan sampai bangsa Indonesia kalah bersaing dan gagal menjadi tuan di tanah sendiri. Selain dukungan dari orang tua terhadap generasi muda, pemerintah juga berkewajiban untuk membenahi sistem pendidikan yang ada, serta memberikan fasilitas pendidikan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Hal ini juga didasari karena generasi muda yang cerdas dan berbakat merupakan jaminan masa depan bagi suatu bangsa. Oleh karena itu marilah kita tingkatkan kesadaran akan pendidikan karena pendidikan merupakan kunci masa depan!

  1. Ayo Kita Dampingi Pendidikan Formal dengan Pendidikan Karakter

Sekolah merupakan salah satu sarana yang disediakan oleh pemerintah sebagai salah satu wadah pendidikan formal bagi warga negaranya. Meski pun begitu, pendidikan tentu saja tidak hanya sebatas belajar disekolah saja, hal tersebut juga harus diimbangi dengan pendidikan karakter yang bagi anak anak.  Pendidikan karakter yang paling utama didapatkan anak dari orang tua, keluarga maupun lingkungan sekitar. Selain lewat orang orang terdekat, pendidikan dapatkan di sekolah agama atau tempat pengajian serta tempat pengembang pendidikan agama lainnya.

Pendampingan dengan pemberian pendidikan karakter penting dilakukan karena sekolah pada umumnya lebih menekankan pada pengetahuan umum dibanding pengetahuan agama atau pun moral. Dengan demikian, sarana pendidikan berbau agama harus didukung oleh orang tua serta diikuti oleh siswa agar membentuk karakter yang baik. Tidak dapat di pungkiri bahwa pendidikan bukan hanya sekedar pengetahuan alam, bahasa, sosial ataupun budaya saja. Semuanya harus siswa imbangi dengan pengetahuan agama yang dalam yang akan menjadi benteng bagi mereka. Apalagi, globalisasi kehidupan tentu saja akan sangat berpengaruh pada cara berfikir serta cara bertindak siswa. Namun itu semua bisa dikendalikan dengan pendidikan karakter.

Memiliki generasi muda yang cerdas merupakan jaminan masa depan bagi suatu bangsa tapi memiliki generasi muda yang cerdas dan bermoral merupakan jaminan bagi kemajuan suatu bangsa ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, mari kita damping pendidikan formal dengan pendidikan karakter!

Semoga beberapa contoh karangan persuasi tentang pendidikan di atas bermanfaat 🙂

, , ,
Post Date: Thursday 30th, March 2017 / 03:36 Oleh :
Kategori : Karangan