Sponsors Link

Unsur-Unsur Pembentuk Puisi dan Strukturnya

Sponsors Link

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan puisi atau adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi juga diartikan sebagai sajak atau gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Biasanya puisi dibuat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan si pengarang dengan mengutamakan keindahan kata-kata.

Unsur-unsur Pembentuk Puisi

Puisi dibentuk atau dibangun dengan unsur-unsur puisi sebagai berikut.

1. Tema

Tema puisi merujuk pada gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Umumnya, tema puisi bersifat khusus, objektif, dan lugas. Adapun tema-tema yang banyak terdapat dalam puisi adalah tema kemanusiaan, ketuhanan, cinta, patriotisme, kegelisahan, kegagalan hidup, kritik sosial, kesetiakawanan, demokrasi, alam, keadilan, dan perjuangan.

2. Nada dan suasana

Unsur pembentuk puisi selanjutnya adalah nada dan suasana kejiwaan. Melalui puisinya, penyair mengungkapkan sikapnya pada pembaca sehingga menciptakan suasana puisi. Dari nada dan suasana inilah, puisi menjadi seperti menggurui, menasehati, menghibur, dan sebagainya.

3. Perasaan

Puisi merupakan ungkapan perasaan penyairnya. Adapun perasaan yang menjiwai puisi dapat berupa perasaan sedih, gembira, terharu, tersinggung, terasing, sombong, patah hati, kesepian, ketakutan, dan lain sebagainya.

4. Amanat

Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Biasanya, amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca.

5. Majas

Majas atau kiasan atau gaya bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain. Majas dalam puisi digunakan untuk menciptakan kesan tertentu bagi penyimak atau pembacanya. Ada macam-macam majas yang kerap digunakan dalam puisi untuk menimbulkan kesan tertentu bagi pembaca di antaranya adalah majas perbandingan, pertentangan, perulangan, dan pertautan.

a. Majas perbandingan

Macam-macam majas perbandingan antara lain sebagai berikut.

  • Majas perumpamaan atau majas simile adalah majas yang membandingkan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan dengan sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan dengan pemakaian kata bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak, laksana, semisal, seumpama, dan serupa. Contoh : Hidup laksana roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah.
  • Majas metafora adalah majas yang membandingkan antara dua hal yang berbeda secara implisist. Metafora hampir sama dengan perumpamaan, bedanya adalah pada majas metafora perbandingan dilakukan secara langsung tanpa menggunakan kata bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak, laksana, semisal, seumpama, umpama, dan serupa. Contoh majas metafora : Tono adalah sampah masyarakat di desa ini.
  • Personifikasi adalah majas yang melekatkan sifat-sifat insani pada benda-benda yang tidak bernyawa atau pada ide yang abstrak. Penggunaan majas personifikasi dapat memberi kejelasan dan bayangan angan (citraan) yang konkret. Contoh majas personifikasi : Hembusan angin membelai rambutnya yang indah.
  • Majas alegori adalah cerita yang mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Alegori dapat dikatakan sebagai metafora yang dilanjutkan. Jadi, memahami majas alegori harus dari keseluruhan teks.

b. Majas pertentangan

Macam-macam majas pertentangan antara lain sebagai berikut.

  • Majas hiperbola adalah majas yang menyatakan sesuatu secara berlebihan baik jumlah, ukuran, maupun sifat-sifatnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian yang lebih saksama dari pembaca. Contoh majas hiperbola : Sampah di Kota Bandung bertumpuk setinggi gunung.
  • Majas litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara memperkecil atau melemahkan sesuatu tersebut dan menyatakan kebalikannya. Contoh majas litotes : Mampirlah ke gubuk kami yang sederhana ini.
  • Majas ironi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya, misalnya dengan mengemukakan makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya dan ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme dengan munculnya kata-kata yang lebih kasar. Contoh majas ironi : Rajin sekali Anda datang ke sekolah, bel masuk sudah berbunyi dua jam yang lalu.

c. Majas perulangan

Macam-macam majas perulangan antara lain sebagai berikut.

  • Majas aliterasi adalah majas yang menggunakan kata-kata dengan bunyi awal yang sama.
  • Majas repetisi adalah majas yang mengandung pengulangan berkali-kali atas kata atau kelompok kata yang sama.

d. Majas pertautan

Macam-macam majas pertautan antara lain sebagai berikut.

  • Majas metonimia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah majas yang berupa pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal lain sebagai penggantinya. Contoh majas metonimia : Ia sedang mengkaji Chairil Anwar bermakna mengkaji karya Chairil Anwar.  
  • Majas sinekdoke menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah majas pertautan yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau pars pro toto. Makna lainnya adalah majas pertautan yang menyebutkan nama keseluruhan sebagai pengganti nama bagiannya atau totem pro parte.  Sinekdoke juga dimaknai sebagai majas pertautan yang menyebutkan nama bahan sebagai pengganti nama barang yang terbuat dari bahan itu. Majas sinekdoke digunakan untuk mengungkapkan kejadian langsung dari sumbernya sehingga menimbulkan gambaran yang lebih konkret.
  • Majas eufemisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan. Eufemisme berkaitan dengan bentuk konotasi positif dari sebuah kata. Contoh : tunakarya merupakan bentuk halus dari pengangguran.
  • Majas alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung pada suatu peristiwa atau tokoh berdasarkan praanggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca serta adanya kemampuan pembaca untuk menangkap pengacuan tersebut. Contoh majas alusio : Tugu Dasasila Bandung mengingatkan kita pada peristiwa Konferensi Asia Afrika.

6. Irama

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, irama dalam puisi berarti alunan yang terjadi karena perulangan dan pergantian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek bunyi, keras lembut tekanan, dan tinggi rendah nada.  Dalam puisi, irama berfungsi untuk memberi jiwa pada kata-kata hingga dapat membangkitkan emosi tertentu seperti sedih, kecewa, marah, rindu, dan bahagia.

8. Penggunaan kata-kata konotasi

Kata konotasi adalah kata yang bermakna tidak sebenarnya. Kata itu telah mengalami penambahan-penambahan, baik itu berdasarkan pengalaman, kesan, maupun imajinasi, dan perasaan penyair.

9. Kata-kata berlambang

Lambang atau simbol adalah sesuatu seperti gambar, tanda, ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu. Lambang-lambang itu menyatakan arti tertentu yang bisa dipahami umum.

10. Pengimajinasian

Pengimajinasian adalah kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi. Dengan daya imajinasi tersebut, pembaca seolah-olah merasa, mendengar, atau melihat sesuatu yang diungkapkan penyair. Dengan kata-kata yang digunakan penyair, pembaca seolah-olah mendengar suara (imajinasi auditif), melihat benda-benda (imajinasi visual), atau meraba dan menyentuh benda-benda (imajinasi taktil).

Struktur Puisi

Unsur-unsur pembentuk puisi di atas dapat dikelompokkan ke dalam dua macam struktur puisi yaitu struktur fisik dan struktur batin. Dengan kata lain, struktur puisi mengacu pada dua macam unsur-unsur puisi yaitu struktur fisik dan struktur batin.

1. Struktur fisik

Yang dimaksud dengan struktur fisik puisi adalah unsur-unsur pembentuk atau pembangun puisi dari luar seperti diksi atau pemilihan kata, pengimajinasian, kata konkret, majas, rima, dan tipografi.

  • Diksi atau pemilihan kata. Puisi dibentuk dengan menggunakan kata-kata yang dipilih secara cermat. Pemilihan kata ini juga berkaitan dengan makna, susunan bunyi, maupun hubungan antara satu kata dengan kata lainnya dalam baris dan baitnya.
  • Pengimajinasian. Yang dimaksud dengan pengimajinasian adalah kata ataupun susunan kata yang dapat menimbulkan imajinasi tertentu seperti imajinasi visual, imajinasi auditif, dan imajinasi taktil.
  • Kata konkret. Penggunaan kata-kata yang konkret sangat berkaitan erat dengan pengimajinasian. Dalam arti, imajinasi pembaca dapat dibangkitkan dengan menggunakan kata-kata yang konkret dan jelas sehingga pembaca dapat membayangkan secara jelas apa yang dimaksud oleh penyair.
  • Majas. Majas atau gaya bahasa atau bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkan, mengiaskan atau menyamakan sesuatu dengan yang lain.
  • Rima dan ritma. Yang dimaksud dengan rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi yang membuat puisi menjadi indah. Selain rima, ada istilah ritma yang merujuk pada pengulangan kata, frase atau kalimat dalam puisi. Baik rima maupun ritma membuat puisi menjadi lebih indah dan bermakna.
  • Tipografi. Tipografi atau tata wajah dalam puisi merujuk pada bentuk visual puisi yang membedakannya dengan karya sastra lainnya. Biasanya, puisi ditulis dengan mengacu pada susunan tertentu seperti adanya larik, bait, jumlah kata dalam setiap bait, dan cara penulisan.

2. Struktur batin

Struktur batin puisi adalah unsur-unsur yang membentuk atau membangun puisi dari dalam yang meliputi tema, perasaan, nada dan suasana, dan amanat.

  • Tema merujuk pada gagasan utama penyair dalam puisinya seperti tema Ketuhanan, keadilan sosial, kemanusiaan, kedaulatan rakyat, patriotism, atau keadilan sosial.
  • Perasaan merujuk pada perasaan yang diekspresikan oleh penyair, seperti kegelisahan, kerinduan, kesedihan, dan lain sebagainya.
  • Nada puisi merujuk pada sikap penyair kepada pembaca, misalnya menasehati, menggurui, menyindir, mengejek, atau lugas dalam menceritakan sesuatu kepada pembaca.
  • Suasana merujuk pada keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi.
  • Amanat merujuk pada pesan yang akan disampaikan oleh penyair melalui puisinya.

Demikian ulasan singkat tentang unsur-unsur pembentuk puisi dan strukturnya. Artikel lain yang dapat dibaca dan berkaitan dengan puisi atau karya sastra lainnya di antaranya adalah perbedaan puisi dan sajak, jenis-jenis puisi, jenis jenis puisi lama, jenis jenis puisi baru, jenis jenis puisi kontemporer, jenis jenis sajak, macam-macam puisi baru berdasarkan isinya, macam-macam puisi baru berdasarkan bentuknya, contoh puisi singkat, contoh puisi lama mantra, contoh puisi beserta sinopsisnya, contoh puisi distikon, contoh puisi terzina, contoh puisi quatrain, contoh puisi soneta, contoh puisi romance, contoh puisi balada, dan contoh puisi elegi. Semoga bermanfaat.

, , , , , ,
Post Date: Tuesday 04th, June 2019 / 11:13 Oleh :
Kategori : Puisi