Contoh Roman Sejarah dalam Bahasa Indonesia

Menurut Sembodo  (2010), roman sejarah adalah salah satu dari jenis-jenis roman yang ceritanya diambil berdasarkan fakta sejarah. Walapun roman ini mengambil langsung peristiwa dan tokohnya dalam sejarah, tetap saja kebenaran di dalamnya tak dapat dibuktikan. Penulis bisa saja melakukan riset sejarah sebelum menulis romannya, tetapi hal ini bersifat subjektif dan dialog yang ada dalam roman sebagian besar fiktif. Lepas dari itu, roman sejarah adalah cara penyampaian yang menarik atas suatu sejarah. Roman sejarah juga merupakan sarana yang baik dalam mempelajari suatu sejarah meskipun kebenaran faktualnya harus dibuktikan lebih lanjut. Beberapa pengarang yang membuat roman sejarah yang baik antara lain Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi Bumi Manusia, Y.B. Mangunwijaya dengan karyanya trilogi Roro Mendut, dan Remi Sylado dengan karyanya Paris van Java.

Berikut adalah beberapa contoh roman sejarah dalam bahasa Indonesia.

1. Contoh 1

Contoh roman sejarah berikut berjudul Hulubalang Raja karya Nur Sutan Iskandar yang dikutip dari laman Wikipedia.com

Hulubalang Raja
Karya : Nur Sutan Iskandar

Ketika Ambun Suri, putri Raja Di Hulu sudah dewasa, diundanglah para bangsawan di sekitar Kampung Hulu Inderapura untuk mengadu peruntungan menjadi suaminya. Hampir saja tidak ada yang beruntung, kecuali Sultan Muhammad Syah darI Kota Hilir Inderapura. Ambun Suri menerimanya bukan karena tertarik, tapi karena Sultan Muhammad Syah merupakan raja yang lebih berkuasa daripada Raja Di Hulu, dan dia ingin berbakti kepada orang tuanya.

Kejadian tersebut mengundang pergunjingan di masyarakat, karena Sultan Muhammad Syah adalah sultan yang tamak yang menurut mereka tidak patut menikah dengan putri cantik yang berbudi tersebut. Putri Kemala Sari, istri pertama Sultan Muhammad Syah juga panas hatinya dan tidak merelakan suaminya memperistri Ambun Suri, yang dulu menjadi teman sepermainannya. Dia pun merencanakan menggagalkan perkawinan tersebut.

Kemala Sari mengajak Ambun Suri mandi di sungai. Di sana dia mencelakainya sehingga putri yang baik hati tersebut hanyut tenggelam. Segala usaha mencari mayatnya gagal.

Sultan Ali Akbar yang bergelar Raja Adil, kakak Ambun Suri marah ketika dia mengetahui kematian adiknya adalah ulah istri Muhammad Syah. Perang pun pecah antara kedua raja tersebut. Muhammad Syah kemudian meminta bantuan kompeni, yang menambah kegeraman Raja Adil.

Namun akhirnya Raja Adil kalah, dan daerahnya dibumihanguskan. Penduduknya dibinasakan, beserta kedua orang tua Raja Adil. Dia sendiri mundur beserta pasukannya untuk menyusun kekuatan kembali.

Sementara itu, cerita beralih kepada Sutan Malakewi, seorang pemuda yang merantau mengadu peruntungan. Dia meninggalkan kampunya karena kegemarannya menyabung ayam telah menghabiskan kekayaan orang tuanya, yang kemudian tidak mau lagi memberinya uang. Dia bergabung dengan rombongan saudagar, yang kemudian diserang penyamun. Sutan Malakewi berhasil meloloskan diri, dan ditolong oleh Putri Rubiah yang memiliki putri cantik yang bernama Sarawaya.

Sutan Malakewi dibawa menghadap Orang Kaya Kecil, yang punya hubungan dengan kompeni Belanda. Orang Kaya Kecil kemudian menganggap Sutan Malakewi sebagai anaknya sendiri. Apalagi kemudian dia mengetahui Sutan Malakewi sering menumpas orang-orang Pauh yang sering melakukan penyerangan terhadap Padang, pusat kekuasaan kompeni di pesisir Minangkabau. Sutan Malakewi kemudian berkomplot dengan kompeni.

Pada saat itu kompeni tidak hanya bermusuhan dengan raja-raja setempat, tetapi juga dengan Aceh yang masih berkuasa di daerah utara pesisir Minangkabau. Sutan Malakewi, yang kemudian diberi gelar Hulubalang Raja, tidak menolak untuk menumpas musuh-musuh kompeni. Dia berhasil menghancurkan musuh-musuhnya, kecuali Raja Adil yang gigih bertahan.

Hulubalang Raja kemudian mencari adiknya yang dikabarkan diculik oleh Raja Adil. Dia meninggalkan Orang Kaya Kecil dan Putri Sarawaya, yang kini sangat mencintainya, masuk ke daerah Raja Adil dengan menyamar. Namun penyamarannya terbongkar. Dia kemudian dibawa ke hadapan Raja Adil. Hulubalang Raja kemudian terkejut karena ternyata adiknya Adnan Dewi telah menjadi istri Raja Adil. Orang yang menjadi musuhnya selama ini ternyata iparnya sendiri. Raja Adil dan Hulubalang Raja kemudian melupakan permusuhan mereka dan berdamai.

2. Contoh 2

Berikut adalah contoh roman sejarah Datu Mancang-Putri Asung Luwan yang dikutip dari antarakaltim.com.

Datu Mancang – Putri Asung Luwan

Ratusan tahun silam, nun jauh di tengah belantara ujung utara Borneo, terdapat komunitas masyarakat Dayak dari anak suku Apo Kayan dari klan Uma Afan dengan pemimpinnya Putri Kayan cantik nan rupawan, Asung Luwan, yang hidup dalam kabut menakutkan karena datangnya serangan begis pasukan barbar dari dataran tinggi Serawak.

Pemimpin pasukan barbar itu adalah Sumbang Lawing. Bersama pasukannya, ia menghancurkan setiap menemukan pemukiman masyarakat di dataran tinggi Apo Kayan yang bak amukan badai tanpa ada belas kasihan. Pada gilirannya, amukan Sumbang Lawing juga menghantam pemukiman komunitas dari klan Kayan Uma Afan sehingga mengakibatkan satria terbaik sekaligus ketua suku yang juga kakak Asung Luwan, yakni Sadang dan ayahnya Wan Paren tewas di mata manau Sumbang Lawing.

Api dendam yang membakar jiwanya membuat gadis remaja itu menjadi kokoh sehingga menjadi pemimpin klannya serta bersumpah akan membalas dendam kepada Sumbang Lawing. Di tengah keputusasaan muncul ramalan akan datangnya seorang pangeran dari negeri seberang yang menjadi dewa penyelamat sekaligus jodoh Sang Putri Kayan.

Sang pangeran itu adalah Datu Mancang, putra Sultan Dipertuan Agung yang memimpin kesultanan Brunei. Suatu hari, atas saran Datu Mahubut, seorang tokoh alim ulama berdarah Arab sekaligus penasehat pemerintahan, Sultan yang telah lanjut usia memerintahkan Datu Mancang untuk segera berlayar guna memperluas tanah kekuasaan Brunei dengan mengitari wilayah selatan Pulau Kalimantan sekaligus syiar agama. Datu Mahubut pun berjanji mendampingi Datu Mancang dalam petualangannya mencari tanah jajahan baru. Turut serta dalam pelayaran ini adalah sang laksamana yang bernama Datu Tantalangi.

Dalam perjalanannya, kapal yang ditumpangi Sang Pengeran dihantam badai besar. Setelah hampir tiga hari terapung-apung di laut, Sang Pangeran beserta awak kapal kemudian merapat ke daratan yang terletak antara Sungai Binai, Mangkupadi dan Tanah Kuning yang dekat dengan Delta Sungai Kayan.

Beberapa hari kemudian, mereka berlayar menyusuri Sungai Kayan untuk menemukan komunitas masyarakat yang konon dipimpin oleh seorang wanita cantik. Tak lama kemudian mereka berhasil menemukan komunitas tersebut yang tak lain adalah warga Apo Kayan Uma Afan dan menghampiri komunitas tersebut dengan damai. Saat itulah, Sang Pangeran bertemu dengan Putri Asung Luwan untuk pertama kalinya dan mereka pun saling jatuh cinta. Sang Pangeran dan pengikutnya kemudian diterima dengan baik oleh warga Apo Kayan Uma Afan, begitu pula Putri Asung Luwan dan diperkenankan tinggal di kawasan tersebut. Sang Putri pun teringat akan ramalan bundanya tentang datangnya seorang pangeran dari negeri seberang yang menjadi dewa penyelamat sekaligus jodoh Sang Putri Kayan.

Setelah beberapa hari di kawasan pemukiman Apo Kayan Uma Afan, Putri Asung Luwan pun kemudian menceritakan alasan Sang Putri beserta pengikutnya tinggal bermukim di Apo Kayan Uma Afan. Dari cerita Sang Putri, Datu Mancang menangkap pesan bahwa Sang Putri embutuhkan bantuannya untuk melawan pasukan Sumbang Lawing. Datu Mancang pun segera menyusun strategi bersama Datu Mahubut dan Datu Tantalangi untuk menghadapi pasukan Sumbang Lawing dan upaya-upaya untuk syiar Islam, serta membangun wilayah baru.

Waktu berlalu dan misi untuk menyerang Sumbang Lawing pun dimulai. Sang Pengeran beserta pasukan berangkat menggunakan beberapa perahu panjang menuju markas Sumbang Lawing di pedalaman Sungai Kayan. Sang Pangeran membuat strategi untuk melakukan serangan langsung ke jantung pertahanan pasukan Sumbang Lawing dengan cara memecah pasukannya ke dalam pasukan-pasukan kecil dengan tugas khusus. Maksud strategi ini adalah untuk mengelabui pasukan Sumbang Lawing.

Saat itu, pasukan Sumbang Lawing tengah minum tuak yang membuat mereka hilang kesadaran. Keadaan itu dimanfaatkan pasukan Sang Pangeran untuk menyerang pasukan Sumbang Lawing. Perang sengit pun tak terhindarkan. Setelah sebelumnya merasa di atas angin karena pasukan Sang Pangeran terdesak, keadaan kemudian berbalik dan Sumbang Lawing pun akhirnya juga terdesak akibat datangnya pasukan cadangan yang dipimpin oleh Datu Tantalangi.

Setelah menderita kekalahan akibat keserangan itu, Sumbang Lawing kemudian mengirim utusannya untuk menyampaikan tantangan kepada pemimpin pasukan Pangeran Datu Mancang untk duel satu lawan satu. Dengan syarat, jika Sumbang Lawing kalah, ia bersama pasukannya keluar dari tanah Apo Kayan. Namun, jika menang, maka seluruh kawasan itu menjadi jajahan pasukan Iban, pasukan Sumbang Lawing.

Duel antara Sang Pangeran Datu Mancang dan Sumbang Lawing pun berlangsung dalam dua babak. Di babak pertama, Sang Pangeran Datu Mancang berhasil membuat Sumbang Lawing tak berkutik namun tidak mengalahkannya. Alasannya, Datu Mancang tidak ingin mengalahkan Sumbang Lawing dalam duel berdarah apalagi sampai membunuh karena akan menimbulkan dendam baru.

Sang Pangeran pun memberikan tantangan baru kepada Sumbang Lawing di duel kedua yang bertujuan untuk mengakhiri pertikaian di dataran Apo Kayan. Tantangan itu berupa perlombaan menebas limau atau jeruk berukuran besar yang ditumpahkan dari atas bukit yang sudah digunduli sebanyak-banyaknya. Di perlombaan ini, Sang Pangeran Datu Mancang pun keluar sebagai pemenang karena berhasil menebas limau atau jeruk lebih banyak dari Sumbang Lawing. Masyarakat Kayan maupun warga Iban pun akhirnya dapat mengakhiri perang suku yang selama ini terjadi tanpa dendam.

Setelah duel itu, Sang Pangeran Datu Mancang melamar dan menikahi Putri Asung Luwan. Pesta pernikahan berlangsung meriah karena diikuti oleh puluhan pasukan Brunei yang setia mendampingi Sang Pangeran dengan Putri Asung Luwan. Dari perkawinan dua suku bangsa itu, kemudian tercatat dalam sejarah lahirnya suku bangsa bernama Suku Bulungan. Buah perkawinan Sang Pangeran dan Putri Asung Luwan melahirkan juriat para sultan yang memimpin Kesultanan Bulungan secara turun temurun.

Demikianlah ulasan singkat tentang contoh roman sejarah dalam bahasa Indonesia. Artikel lain yang dapat dibaca di antaranya adalah contoh roman singkatjenis jenis prosa baru, jenis jenis esai, jenis jenis prosa, contoh novel fiksi, contoh prosa baru novel, contoh cerita novel, contoh novel singkat, contoh kata pengantar novel, contoh sinopsis novel, contoh resensi buku novel, jenis-jenis novel, dan perbedaan cerpen dan novel. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

, , , , ,
Post Date: Saturday 23rd, March 2019 / 02:26 Oleh :
Kategori : roman